Sejarah Penduduk Sulawesi Utara

Sejarah Penduduk Sulawesi Utara
Ditulis oleh Administrator
Senin, 16 Maret 2009 20:51 – Terakhir Diperbaharui Senin, 16 Maret 2009 20:55
Penduduk Sulawesi Utara terdiri atas tiga kelompok etnis utama, masing-masing Suku
Minahasa, Suku Sangihe dan Talaud, dan Suku Bolaang Mongondow, Masing-masing
kelompok etnis terbagi pula subetnis yang memiliki bahasa, tradisi dan norma-norma
kemasyarakatan yang khas. Inilah yang membuat bahasa di provinsi itu terbagi dalam Bahasa
Minahasa ( Toulour, Tombulu, Tonsea, Tontemboan, Tonsawang, Ponosakan dan Batik);
Bahasa Sangihe Talaud ( Sangie Besar, Siau, Talaud); dan Bahasa Bolaang Mongondow
(Mongondow, Bolaang, Bintauna, Kaidipang). Namun demikian, Bahasa Indonesia digunakan
dan dimengerti dengan baik oleh sebagian besar penduduk di sana.
Masyarakat Sulawesi Utara didominasi oleh Suku Minahasa (33,2%), diikuti Suku Sangir
(19,8%), Suku Bolaang Mangondow (11,3%), Suku Gorontalo (7,4%) lalu Suku Totemboan
(6,8%). Lagu daerah yang akrab mereka nyayikan adalah Sia Patokaan dan O Ina Ni Keke. Di
Kota Manado dan sekitarnya, bahasa yang digunakan sehari-hari adalah Melayu Manado.
Bahasa daerah Manado menyerupai Bahasa Indonesia tetapi dengan logat yang khas.
Beberapa kata dalam dialek Manado berasal dari bahasa Belanda dan bahasa Portugis karena
daerah ini dulu merupakan wilayah penjajahan Belanda dan Portugis.
Penduduk di Kota Manado terdiri atas berbagai latar belakang etnis maupun agama. Mayoritas
penduduk berasal dari Suku Minahasa, menyusul Suku Sangihe Talaud, Suku Bolaang
Mongondow, Suku Gorontalo dan masyarakat keturunan Tionghoa. Selain itu terdapat pula
Suku Jawa, Batak, Arab, Maluku, Makasar dan sebagainya. Mayoritas penduduk disana
beragama Kristen dan Katolik. Sejumlah besar gereja dapat ditemui di seantero kota. Meski
demikian, masyarakat Manado terkenal sangat toleran, rukun, terbuka dan dinamis. Karenanya
Kota Manado memiliki lingkungan sosial yang relatif kondusif dan dikenal sebagai salah satu
kota yang relatif aman di Indonesia. Sewaktu negeri ini sedang rawan akibat goncangan politik
tahun 1999 dan berbagai kerusuhan melanda kota-kota di Indonesia, Kota Manado dapat
dikatakan relatif aman. Hal itu tercermin dari semboyan masyarakat disana, torang samua
basudara (kita semua bersaudara).
Musik tradisional dari Kota Manado dan sekitarnya adalah kolintang. Alat musik ini dibuat dari
sejumlah kayu yang berbeda-beda panjangnya sehingga menghasilkan nada-nada yang
berbeda. Biasanya untuk memainkan sebuah lagu dibutuhkan sejumlah alat musik kolintang
untuk menghasilkan kombinasi suara yang bagus.
Masyarakat Manado juga disebut “warga Kawanua”. Walaupun secara khusus Kawanua
dinisbatkan kepada Suku Minahasa, secara umum penduduk Manado dapat disebut juga
sebagai warga Kawanua. Dalam bahasa daerah Minahasa, “Kawanua” sering diartikan sebagai
penduduk negeri atau “wanua-wanua” yang bersatu atau “Mina-Esa” (Orang Minahasa). Kata
1 / 2
Sejarah Penduduk Sulawesi Utara
Ditulis oleh Administrator
Senin, 16 Maret 2009 20:51 – Terakhir Diperbaharui Senin, 16 Maret 2009 20:55
“Kawanua” diyakini berasal dari kata “Wanua”, yang dalam bahasa Melayu Tua (Proto Melayu)
diartikan sebagai wilayah permukiman. Sementara dalam bahasa Minahasa, kata “Wanua”
diartikan sebagai negeri atau desa.
2

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to comments via RSS Feed

Laman

Kategori

Tautan

Meta

Kalender

Desember 2016
S S R K J S M
« Jan    
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Most Recent Posts

 
%d blogger menyukai ini: